uji provenansi tusam umur 18 tahun di Lampung

Posted by: isminandaa08  :  Category: tugas kuliahku

UJI PROVENANSI TUSAM (Pinus merkusii Jungh et de Vriese)

UMUR 18 TAHUN DI LAMPUNG1

Ardiansyah Purnama, Erik Kurbaniana, Isminanda Alkautsar,

Fransisxo GS Tambunan, Hafiizh Baskara2

dan

Edje Djamhuri3

ABSTRAK

Pemilihan benih yang sesuai untuk ditanam di suatu tempat secara luas merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penanaman hutan. Penggunaan benih dari tempat asal, geografis dan ekologis, yang tepat merupakan syarat utama berhasilnya penanaman hutan (Soerianegara dan Djamhuri, 1979). Untuk menghindari kegagalan di kemudian hari perlu terlebih dahulu dilakukan percobaan provenansi untuk mengetahui pertumbuhan berbagai provenans/sumber asal benih pada lokasi percobaan. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui variabilitas pertumbuhan provenan Tusam (Pinus merkusii) dengan menggunakan uji asalnya. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menunjukkan pertumbuhan Tusam dari beberapa variabel pertumbuhan yaitu tinggi total, tinggi bebas cabang dan diameter batang. Untuk tujuan penelitian, terdapat lima provenan dari tusam (A, B, C, D dan E). Data yang diperoleh dianalisis secara statistik menggunakan ANOVA dengan menggunakan Rancangan Acak Berblok (RAB) dan dengan Uji Beda menggunakan Uji Jarak (LSR) Duncan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa provenan B memiliki pertumbuhan yang lebih tinggi dibandingkan dengan provenan lain..

Kata Kunci : tusam, provenansi, variasi pertumbuhan


PENDAHULUAN

Latar Belakang

Dengan semakin berkurangnya kemampuan hutan alam untuk memenuhi kebutuhan kayu, pembangunan hutan tanaman menjadi ujung tombak substitusi kayu dari hutan alam. Salah satu jenis yang diprioritaskan untuk hutan tanaman adalah tusam (Pinus merkusii Jungh et de Vriese). Jenis yang juga dikenal sebagai Pinus Sumatra (Sumatran pine) ini dapat digunakan sebagai bahan baku pulp-kertas, kayu bangunan dan hasil bukan kayu berupa getah/gondorukem (Suhardi et al. 1994).

Pinus merkusii (Tusam) merupakan satu-satunya jenis Pinus yang tumbuh asli di Indonesia. dalam jenis pohon serbaguna yang terus-menerus dikembangkan dan

1 Makalah ini disampaikan dalam Praktikum Pemuliaan Pohon, Kamis 31 Maret 2011 (12.00-14.00), di Ruang Kuliah ABT-1, Fakultas Kehutanan Institut Pertanian Bogor

2 Mahasiswa Semester 6 Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB (E44080006, E44080030, E44080039, E44080046, E44080061)

3 Dosen Pembimbing Praktikum Pemuliaan Pohon di Departemen Silvikultur Fakultas Kehutanan IPB (Ir.)

diperluas penanamannya pada masa yang akan datang untuk penghasil kayu, produksi getah, dan konservasi lahan. Hampir semua bagian pohonnya dapat dimanfaatkan, antara lain bagian batangnya dapat disadap untuk diambil getahnya. Getah tersebut diproses lebih lanjut menjadi Gondorukem dan Terpentin. Gondorukem ini dapat digunakan sebagai bahan untuk membuat sabun, resin dan cat. Terpentin sendiri digunakan untuk bahan industri parfum, obat-obatan, dan desinfektan. Hasil kayu dari pohon pinus bermanfaat untuk konstruksi, korek api, pulp, dan kertas serat panjang. Bagian kulitnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar dan abunya digunakan untuk bahan campuran pupuk, karena mengandung kalium (Dahlian dan Hartoyo 1997).

Di Indonesia, Pinus yang tumbuh secara alami hanyalah Pinus merkusii Jungh et de Vriese di tiga tempat Sumatera, yaitu di Aceh, Tapanuli, dan Kerinci, dan oleh Lamb dan Cooling (1967) dinamakan “strain”; sedangkan Cooling (1968) menyebutnya sebagai “provenansi”. Untuk strain Kerinci, Armizon et al. (1995) menyebutnya sebagai “galur” Kerinci.

Pemuliaan pohon hutan (forest tree improvement) ialah penerapan azas-azas genetika pada penanaman hutan untuk memperoleh pohon-pohon yang memiliki sifat dan hasil yang lebih tinggi nilainya (Soerianegara dan Djamhuri 1979). Salah satu kegiatan pokok pemuliaan pohon adalah mengadakan percobaan penanaman jenis pohon dari berbagai daerah asal (percobaan provenansi).

Penanaman pohon hutan tanpa mengetahui asal benih tidak dibenarkan. geografis dan ekologis, yang tepat merupakan syarat utama berhasilnya Penggunaan benih dari tempat asal, penanaman hutan (Soerianegara dan Djamhuri, 1979). Oleh karena itu, pemilihan benih dari sumber asal benih yang sesuai untuk ditanam di suatu tempat dimana akan diadakan penanaman. Merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi keberhasilan penanaman hutan.

Tujuan

Praktikum ini bertujuan mengetahui keragaman pertumbuhan antar provenansi dan pertumbuhan tiap provenansi.

METODOLOGI

Data yang dipakai dalam praktikum ini adalah data sekunder dengan menganalisis variabel pertumbuhan yaitu tinggi total, tinggi bebas cabang dan diameter batang.  Uji provenansinya menggunakan Rancangan Acak Berblok (RAB) dengan variabel tinggi total, tinggi bebas cabang dan diameter.

Untuk menentukan atau mengetahui provenans mana yang paling baik maka dilakukan uji beda dengan menggunakan Uji Jarak (LSR) Duncan.

HASIL DAN PEMBAHASAN

Uji Provenansi Pinus Dengan Beberapa Variabel

1. Tinggi Total

Data hasil pengukuran nilai rata-rata pertumbuhan tinggi total provenans-provenans Pinus merkusii pada umur 18 tahun berkisar antara 20,34-26,82 m, untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Histogram Nilai Rata-rata Pertumbuhan Tinggi Total Provenans-provenans Pinus merkusii.

Hasil analisis keragaman pengaruh provenans terhadap pertumbuhan tinggi total dengan menggunakan analisis statistik dengan ANOVA (Tabel 1).

Tabel 1. Analisis Keragaman Pengaruh Provenans Terhadap Tinggi Total Pinus merkusii

Sumber Variasi Db JK KT F hit F tab
Blok 3 2,48 0,83 1,33tn 3,49
Provenansi 4 123,66 30,91 49,74** 3,26
Error 12 7,46 0,62
Total 19 133,60

Keterangan : Angka-angka dalam tabel adalah nilai signifikan

** = Perlakuan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% dengan nilai signifikan (Fhit < 0,05 (α))

tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% dengan nilai signifikan (Fhit > 0,05 (α))

Tabel 1 menunjukkan bahwa asal benih atau provenans Pinus merkusii memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi total tanaman pada selang kepercayaan 95%.

2. Tinggi Bebas Cabang

Data hasil pengukuran nilai rata-rata pertumbuhan tinggi bebas cabang

provenans-provenans Pinus merkusii pada umur 18 tahun berkisar antara 11,03-14,72 m, untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2.  Histogram Nilai Rata-rata Pertumbuhan Tinggi Bebas Cabang Provenans-provenans Pinus merkusii.

Hasil analisis keragaman pengaruh provenans terhadap pertumbuhan tinggi bebas cabang dengan menggunakan analisis statistik dengan ANOVA (Tabel 2).


Tabel 2. Analisis Keragaman Pengaruh Provenans Terhadap Tinggi Bebas Cabang Pinus merkusii

Sumber Variasi db JK KT F hit F tab
Blok 3 2,95 0,98 0,99tn 3,49
Provenansi 4 48,52 12,13 12,26** 3,26
Error 12 11,87 0,99
Total 19 63,34

Keterangan : Angka-angka dalam tabel adalah nilai signifikan

** = Perlakuan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% dengan nilai signifikan (Fhit < 0,05 (α))

tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% dengan nilai signifikan (Fhit > 0,05 (α))

Tabel 2 menunjukkan bahwa asal benih atau provenans Pinus merkusii memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan tinggi bebas cabang tanaman pada selang kepercayaan 95%.

3. Diameter Batang

Data hasil pengukuran nilai rata-

rata pertumbuhan diameter batang provenans-provenans Pinus merkusii pada umur 18 tahun berkisar antara 23,44-30,93 cm, untuk jelasnya dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3.  Histogram Nilai Rata-rata Pertumbuhan Diameter Provenans-provenans Pinus merkusii.


Hasil analisis keragaman pengaruh provenans terhadap pertumbuhan diameter batang dengan menggunakan analisis statistik dengan ANOVA (Tabel 3).


Tabel 3. Analisis Keragaman Pengaruh Provenans Terhadap Diameter Batang Pinus merkusii

Sumber Variasi db JK KT F hit F tab
Blok 3 2,12 0,71 1,16tn 3,49
Provenans 4 155,02 38,75 63,97** 3,26
Error 12 7,27 0,61
Total 19 164,41

Keterangan : Angka-angka dalam tabel adalah nilai signifikan

** = Perlakuan berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% dengan nilai signifikan (Fhit < 0,05 (α))

tn = Perlakuan tidak berpengaruh nyata pada selang kepercayaan 95% dengan nilai signifikan (Fhit > 0,05 (α))

Tabel 3 menunjukkan bahwa asal benih atau provenans Pinus merkusii memberikan pengaruh yang nyata terhadap pertumbuhan diameter batang tanaman pada selang kepercayaan 95%.

Uji Jarak Duncan Beberapa Variabel

Selanjutnya untuk mengetahui perbedaan antar provenans, dilakukan uji beda dengan menggunakan uji jarak nyata (LSR) Duncan pada beberapa variabel pertumbuhan yaitu tinggi total, tinggi bebas cabang, dan diameter batang.

Dari hasil pengamatan dan pengukuran pertumbuhan awal provenans-provenans Tusam (Pinus merkusii) pada umur 18 tahun, diperoleh tabel gabungan dari tiga parameter pertumbuhan yang disajikan pada Tabel 4.

Tabel 4. Rekapitulasi Hasil Uji LSR Duncan Untuk Semua Parameter Pertumbuhan Provenans-provenans Pinus merkusii Pada Umur 18 Tahun

No. Urut Prov. Tinggi Total (m) Prov Tinggi Bebas Cabang (m) Prov. Diameter Batang (cm)
1 B 26,82 B 14,72 B 30,93
2 C 24,69 E 14,17 A 28,19
3 A 21,52 A 11,51 C 26,25
4 D 20,92 C 11,37 D 23,87
5 E 20,34 D 11,03 E 23,44

Keterangan : Tanda garis sebelah kanan menunjukkan tidak berbeda nyata pada α = 0,05

Secara keseluruhan berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui bahwa provenans-provenans yang menunjukkan kecenderungan pertumbuhan yang baik adalah provenans B, sedangkan provenans yang menunjukkan kecenderungan pertumbuhan kurang baik adalah provenans E dan D.

Selanjutnya Nai’em (2001) mengemukakan bahwa pertumbuhan diameter dan tunas atau jumlah daun merupakan pertumbuhan yang dipengaruhi oleh faktor genetik, sedangkan pertumbuhan tinggi lebih dipengaruhi oleh faktor lingkungan khususnya kesuburan tanah. Kondisi ini dapat memberikan gambaran bahwa faktor genetik yang mempengaruhi kemampuan adaptasi terhadap tempat tumbuh untuk pertumbuhan Tusam atau Pinus.

Menurut Zobel dan Talbert (1984), basis genetik yang lebih luas dari suatu jenis akan memiliki kemampuan untuk beradaptasi pada lingkungan yang beragam. Alden and Loopstra (1986) mengemukakan bahwa keragaman genetik memungkinkan terdistribusi pada dalam populasi dapat merupakan respon terhadap seleksi ruang dan waktu pada lingkungan yang heterogen. Sebagaimana ditegaskan oleh Toumey dan Korstian (1947), bahwa variasi dan lamanya pertumbuhan tergantung kepada berbagai faktor antara lain species pohon, tanah, iklim, umur pohon dan campur tangan manusia. Jenis dengan variasi dalam populasi yang besar mempunyai potensi untuk berpindah dan beradaptasi pada lingkungan yang baru.

Secara keseluruhan berdasarkan Tabel 4, dapat diketahui bahwa provenans B menunjukkan pertumbuhan yang baik. Hal ini berarti bahwa provenans tersebut mampu menyesuaikan diri dengan kondisi linghkungan yang baru.

KESIMPULAN

Dari hasil uji provenansi Pinus merkusii umur 18 tahun di Lampung :

1.      Provenans Pinus merkusii menunjukkan pengaruh yang nyata terhadap tinggi total, tinggi bebas cabang dan diameter batang pada umur 18 tahun. Pertumbuhan tinggi totalnya berkisar antara 20,34-26,82 m, tinggi bebas cabang berkisar antara 11,03-14,72 m dan diameter batang berkisar antara 23,44-30,93 cm.

2.      Provenans Pinus merkusii yang cenderung menunjukkan pertumbuhan awal yang baik adalah provenan B, sedangkan yang kurang baik pertumbuhannya adalah  provenan D dan provenan E

DAFTAR PUSTAKA

Alden, J. and C. Loopstra, 1987. Genetic Diversity and Population Structure of Ficea glauca on an Altitudinal Gradient in Interior Alaska. Canadian Journal Forestry Research, 17: 1519-1526.

Armizon, C Sukmana, S Manan. 1995. Okurasi Pinus merkusii Junghn et de Vriese Galur Kerinci Berdasarkan Ketinggian Tempat di Hutan Pegunungan Cagar Alam Bukit Tapan, Kawasan Taman Nasional Kerinci-Seblat. Rimba Indonesia 30 (4): 2-9.

Dahlian E, Hartoyo. 1997. Komponen Kimia Terpentin dan Getah Tusam (Pinus merkusii) Asal Kalimantan Barat. Info Hasil Hutan. Badan Penelitian dan Pengembangan Kehutanan. Bogor. 4(1): 38-39.

Lamb AFA, ENG Cooling. 1967. Exploration, Utilization and Conservation of Low Altitude Tropical Pine Gene Resources. Department of Forestry, University of Oxford, Commonwealth Forestry Institute, England.

Nai’em, M. 2001. Genetic Variation of Shorea Leprosula Miq. In Three Population in Indonesia: Implication for Ex Situ Conservation. Bulletin Kehutanan. 49: 12-25.

Soerianegara I. Dan E. Djamhuri. 1979. Pemuliaan Pohon Hutan. Departemen Manajemen Hutan, Fakultas Kehutanan IPB, Bogor.

Tomey J.W. and C.F. Korstian. 1947. Foundation of Silviculture. John Wiley and Sons, New York.

Zobel, B. dan J. Talbert, 1984. Applied Forest Tree Improvement. John Wiley & Sons. New York.